Untuk Kita
Sesuatu membuatku sadar, bahwa aku telah tumbuh keliru. Sekali lagi, untungnya ada hal yang membuatku sadar.
Menulis di blog ini, aku bisa memberikan arsip pada diriku sendiri untuk tumbuh. Selama beberapa waktu terakhir, aku telah tumbuh dengan begitu congkak. Begitu ingin terlihat pintar di mata orang lain. Begitu kurang lebih yang aku rasakan.
Bukan menjadikan pembelaan untuk pembenaran. Aku hanya ingin berbagi kenapa aku tumbuh seperti itu.
Waktu aku kecil, aku banyak diremehkan. Orang biasa melihat aku, ah, cuma Jagad. Ah, siapa Jagad. dll. Tapi tidak apa, aku tidak pernah membalas itu karena hanya bisa menundukkan kepala sambil bilang, "iya"; "aku nurut aja sih"; "oh bener juga"; itu bener juga yang sangat sering.
Padahal dalam beberapa obrolan yang aku lakukan, aku tahu orang itu salah. Tapi aku hanya bisa bilang "bener juga". Karena aku mengamini apa yang telah orang-orang buat kacamatanya untuk melihat aku. Aku siapa? untuk membenarkan apa yang keliru.
Hingga akhirnya aku tumbuh sampai dua puluh tahun hanya untuk memberikan pembuktian. Ternyata cara yang seperti itu sama saja, salah.
Jangan pernah menancapkan dendam dalam menjalankan mimpi. Karena itu salah.
Selama dua puluh tahun aku membaca. Aku berbagi dalam beberapa waktu terakhir untuk bilang, "ini aku, dua puluh tahun dan suka membaca. Aku ingin menunjukkan padamu kalau aku ada isinya. Opini yang keluar dariku bukan ecek-ecek. Bahkan mungkin opinimu tidak akan sama baiknya dengan punyaku."
Aku salah.
Aku membenci sifat terselebungku yang seperti itu.
Menjadi pintar. Menjadi sok paling berbobot opininya. Semua itu tidak ada gunanya.
Pasang telinga. Dengarkan orang lain berbicara. Mau bagaimana pun dengarkan, karena dengan menjadi yang mendengar jadi banyak belajar yang di dapatkan.
Untuk berbagi ilmu, usahakan niatannya itu memang berbagi.
Jika berbagi dan memang niatannya untuk berbagi. Ada untungnya, bagi diri sendiri? Ya, ada. Bagi diri sendiri akan merasa ilmu yang kita punya jadi bermanfaat untuk orang lain. Inspirasi, tulisan, hiburan, jadi membuat kita merasa seneng bisa menghibur orang lain. Sukur-sukur kalau orang merasa terhibur. Akan membuat kesenangan tersendiri buat kita.
Tapi jika berbagi dan niatannya hanya untuk diakui pintar, buat apa? Untungnya apa? Setidaknya bagi diri sendiri, tidak ada untungnya, kan? Di pandang "wah" karena pinter apa untungnya sih? Tidak ada kan.
Sekarang, aku akan mencoba jalan yang terbaik yang bisa aku lakukan.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca.
Pelajaran dari tulisan ini, "membawa dendam tidak akan ada untungnya. Jangan pernah jatuh pada motto: aku bisa membuktikan ke orang lain kalau aku berhasil."
Lakukanlah untuk diri kita sendiri, berdasarkan kejujuran. Hingga, kita bisa bilang, "aku bisa mencapai mimpiku, dan bermanfaat untuk orang lain."
Komentar
Posting Komentar