Serial Kampret : Menjadi Pemimpin

 Kampret tidak suka posisinya yang hanya menjadi warga biasa. Baginya, menjadi warga biasa gampang di injak-injak oleh penguasa atau pemimpin. Padahal, jika Kampret tidak dungu. Seharusnya ia mengerti bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. (apabila suatu wilayah menerapkan sistem demokrasi, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat.)

*Kampret di sini memang karakter kita. Jangan seret cerita lucu ini pada hal-hal yang di luar dunia cerita ini. Karena kamu jelas tidak ingin seperti Kampret, kan?

Ia mengerahkan segala cara untuk maju pada pemilihan pemimpin suatu kota.

Kampret mengadakan kampanye besar-besaran di sosial media. Dia bilang, "media sosial itu penting. Aku rasa manusia zaman sekarang banyak menghabiskan hidupnya di media masa daripada hidup di dunia nyata." Begitu timnya mendengarkan. Semua tim itu langsung melaksanakan perintah Kampret.

Pada satu kali dalam hidupnya. Kampret merasa senang bisa membuat orang lain melakukan apa pun yang ia katakan.

Namanya juga Kampret. Maka ia memanfaatkan keuntungannya itu dengan suka-suka. "Ambilkan aku gayung. Aku sudah selesai buang air besar!" Pengikut setianya bersedia mengambilkan gayung. Bahkan, mungkin, jika harus menyeboki Kampret perlu dilakukan, pengikut setianya akan dengan senang hati melakukan.

Janji yang ia ucapkanlah, yang membuat para pengikutnya menjadi begitu setia. "Nanti, kalau aku sudah jadi pemimpin di kota. Aku kasih kamu jabatan. Kamu bisa mengatur-atur orang sesukamu, sama sepertiku!" Mendengar itu pengikutnya berbondong-bondong setia padanya.

Benar saja kampanye yang telah ia lakukan di sosial media membawakan hasil. Suara terbesar diraihnya. Ia menang dalam pemilihan pemimpin kota.

"Sudah aku katakan. Aku akan menang." Kata Kampret jumawa.

Kampret menjadi pemimpin kota. Satu, dua bulan, orang-orang yang mendukungnya. Orang-orang yang memilihnya karena gencatan kampanye sosial media yang dapat dikatakan berhasil. Mereka merasa bangga karena junjungannya berhasil menang.

Hingga suatu masalah terjadi. Pada kota yang dipimpin oleh Kampret menderita kekeringan. Sudah satu tahun lebih sejak masa kepemimpinannya yang baik-baik saja ini, mengalami satu masalah. Masalahnya adalah, hujan tidak turun selama satu tahun.

"Pak, kami sangat kekeringan." Kata salah satu warga memohon pada Kampret.

"Hujan sudah satu tahun lebih tidak datang." Kata warga lain memohon pada Kampret.

"Saya jadi tidak bisa menanam kembali padi-padi saya, Pak."

"Kali juga airnya mulai surut. Tidak ada ikan, saya tidak bisa mancing, Pak."

Ketika semua warga memohon. Saat itu juga, Kampret ingat pada masa sulitnya ketika masih menjadi warga. Sama seperti mereka. Tapi, sekarang situasinya berbeda. Ia yang menjadi pemimpin. Tapi sekali lagi, bagaimana pun pemimpin, tentu tidak bisa memberikan hujan. Hujan itu kuasa Ilahi.

Di lain pikiran. Kampret merasa menjadi pemimpin juga harus mempunyai solusi. Karena menjadi pemimpin ia dapat menyuruh-nyuruh orang dengan semaunya.

Maka karena penderitaan yang dirasakan oleh warganya, Kampret menemukan jalan keluar yang sangat efektif baginya. Bagi Kampret. Sekali lagi, hanya bagi Kampret.

"Pengikut setiaku!"

Beberapa orang sudah berbaris di depan Kampret. Siap melakukan apa pun yang akan diperintahkan oleh pemimpinnya.

"Aku ingin memberimu tugas!"

Pengikutnya masih setia mendengarkan.

"Kencinglah beramai-ramai di atas bukit. Hingga mengaliri jalan-jalan air di atas sana. Jika kalian beramai-ramai kencing di atas bukit. Maka aku yakin, air terjun tempat biasa pemancing itu memancing ikan, akan dialiri air yang deras. Ah, sawah? Bukankah sawah juga satu aliran dengan air terjun?"

"Lakukanlah sesuai yang aku minta. Aku yakin ini akan berhasil!"

"Kalian bebas dalam melakukannya. Bisa seperti anak laki-laki kecil yang biasa memainkan kencingnya dengan mengarahkan kekanan-kiri sesuai keinginan hati. Bisa juga berjongkok seperti anak perempuan. Bebas. Kencinglah sebanyak-banyaknya!"

Untuk kali terakhir kalimatnya selesai. Para pengikutnya beranjak.

***

Nun. beberapa tahun setelah kejadian itu. Kampret sudah bukan lagi pemimpin dalam suatu kota. Setelah kejadian kekeringan itu, tenyata ia di pecat oleh warganya sendiri.

"Pemimpin dungu yang tidak punya solusi!"

"Mana bisa ikan hidup di air kencing?"

"Mana bisa padi tumbuh jika di aliri air seperti itu? Kurang ajar!"

"Memang tidak kekeringan lagi. Tapi kota jadi bau pesing!"

"Pemimpin bodoh!"

Pada saat masa seperti inilah. Sudah jauh berkilo-kilo meter dari kota yang pernah ia pimpin. Kampret tertawa geli mengingat itu semua. Baginya, "yang penting aku sudah pernah merasakan menjadi pemimpin. Menyuruh-nyuruh orang lain bertindak sesuai keinginanku!"

Ia akan mudah tertawa lagi jika mengingat apa yang pernah dilakukannya.

Komentar

Postingan Populer