Serial Kampret : Dana Pensiun
Sebagai laki-laki yang memiliki tingkat kekhawatiran hidup yang sangat tinggi. Sejak umurnya masih dua puluhan tahun, sejak gaji pertamanya diberikan, Kampret menjadi rajin menabung.
Ia sisihkan sebagian uangnya untuk dana pensiun. Ia menabungnya pada investasi saham. "Agar nilainya bisa terpakai dan tidak sia-sia, daripada hanya diam terendam dalam tabungan." Begitu kata Kampret pada teman-teman tongkrongannya.
"Kita bisa menggunakan formasi bola untuk mengatur keungan kita. 4-3-3. Dari 100 persen gaji yang kita terima, 40 persen kita gunakan untuk pegangan sehari-hari. 30 persen tabungan bank untuk dana darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. 30 persen sisanya bisa kita pakai untuk investasi."
Kampret memberikan kuliah malam pada teman-temannya di tempat kopi dengan mulut yang belepotan oleh sambal tempe mendoan. Barang membereskan belepotan di mulut saja ia tidak bisa, apa lagi mengatur keungannya untuk hidup. Begitu kata teman-teman yang sama sekali tidak percaya pada Kampret.
Ternyata, omong kosong yang dicurigai oleh teman-temannya itu tidak terbukti.
Suatu hari, ketika umurnya sudah memasuki tiga puluh tahun. Kampret mencapai kebebasan finansialnya. Ia bisa pensiun kapan saja ia mau. Tapi ia enggan, ia sudah sangat mencintai pekerjaannya. "Bos di tempat kerjaku baik, jadi sungkan untuk resign dari kerjaan."
Begitu kata Kampret. Kuliah malam ini tidak lagi dibarengi oleh tempe mendoan. Hidup Kampret berubah, ia memasan jahe hangat. Tapi mulutnya tetap, belepotan oleh remahan roti tawar yang ia makan. Kampret memang begitu, mulutnya selalu belepotan tanpa ia sadari.
Teman-temannya mengangguk. Tanpa keraguan, percaya pada mulut belepotan Kampret.
Tapi bukan itu yang menjadi ujung cerita singkat kisah Kampret episode pertama ini. Cerita masih belum selesai.
Ia terserang sakit flu. Menggunakan segala dana daruratnya untuk berobat. Dana darurat itu tentu mencukupi biaya berobat Kampret. Bahkan melebihi biaya dokter yang dikeluarkan. Masih sisa banyak dana darurat milik Kampret.
Tapi apa yang telah dikatakan oleh dokter, tidak bisa digantinya dengan apa pun. Ada hal yang tak bisa tergantikan. Termasuk dengan uang melimpah yang Kampret punya.
"Karena flu yang anda derita, Tuan. Mungkin umur Tuan tidak lama lagi. Tidak ada yang dapat saya lakukan, saya mohon maaf."
Begitu mendengar itu, Kampret kelabakan. Ia belum pernah pensiun. Dana pensiun yang seharusnya ia gunakan untuk menikmati hidup sampai usia seratus tahun. Ternyata usianya hanya tinggal satu minggu lagi. Tidak ada istri, apa lagi anak, uangnya hanya akan lenyap secara tiba-tiba jika ia mati.
Keesokannya Kampret pensiun. Tanpa rasa sungkan yang ditahan-tahannya lagi. Tapi ia tidak pernah mengatakan perihal estimasi umurnya kepada siapa pun, hanya ia dan dokter yang tahu itu.
Tidak ingin uang pensiunnya habis sia-sia karena ia hidup sendiri. Kampret langsung menarik semua dana pensiunnya. Ia gunakan untuk berfoya-foya. Ia gunakan untuk membeli apa pun yang terlihat oleh matanya. Tiba-tiba mempunyai beberapa rumah di kota menjadi bukti nyata bahwa dana pensiun Kampret sangat besar, karena keimpulsifannya dalam membeli apa pun yang terlihat oleh mata.
Hari terakhir sebelum estimasi umurnya yang tersisa. Ia pergi dan mentraktir semua temannya. Kini ia tidak lagi hidup sehat dengan membatasi makanan dan minuman yang dipesannya. Mulutnya telah belepotan oleh bumbu sate kambing. Beberapa minuman bersoda sudah ada di depannya untuk ia minum.
Teman-temannya kaget dengan perilaku Kampret yang tiba-tiba berubah total. Tapi mereka tidak menanyakannya, selagi semuanya senang karena ditraktir oleh Kampret.
Kampret telah memilih kalimat akhir yang pas untuk berpamitan pada temannya. Begini katanya pada teman-teman dengan suara yang tersumbat ingus karena flu yang mematikan, "Memang kita bisa mengumpulkan uang dengan sebanyak-banyaknya. Tapi ada hal-hal lain yang berada di luar kehendak kita, yang harus kita hadapi dan terima." Meskipun mulutnya belepotan oleh sate kambing, tapi untuk yang terakhir kali ini, Kampret terlihat seperti orang suci.
Uang pensiunannya sudah ludes tak tersisa. Ia merasa senang karena uang yang ia kumpulkan tidak sia-sia.
Hari terakhir dalam hidupnya, ia hadapi. Ia kembali berkunjung ke dokter yang seminggu lalu memeriksanya.
"Bagaimana, Tuan, apakah sudah sembuh?"
"Sembuh?" Kampret heran.
"Ya. Tuan. Ternyata asisten saya salah memberikan rekam medis. Rekam medis minggu lalu, bukan milik Tuan Kampret. Tertukar oleh Tuan Kakikum yang memiliki penyakit mematikan. Maafkan saya, Tuan. Tapi tentu, kesehatan Tuan yang baik-baik saja yang paling penting, kan?"
Apa yang dikatakan dokter terasa melayang. Kampret hanya bisa memandang keluar jendela pemeriksaan dengan tatapan nanar penuh penyesalan. Dana pensiunnya ludes tak tersisa.
Komentar
Posting Komentar