Sebuah Tempat yang Memiliki Cerita Sendiri
Pagi itu, 30 Juni 2022.
Jujur saja. Aku lupa harinya. Karena aku buruk dalam mengingat hari di mana pada saat itu terasa sama saja. Setiap harinya aku merasa senang, kebanyakan senang, bukannya tidak ada gundah sama sekali.
Bandung hari itu cerah. Setelah perjalanan dua jam lebih dari Cianjur. Kecepatan kami motoran memang tidak seharusnya dilakukan, tak ada pembelaan, memang tidak seharusnya sekencang itu dalam berkendara.
Hari itu aku memasuki Stasiun Bandung. Diantar oleh dua orang teman dari Cianjur. Aku akan pulang ke Malang, tapi harus pergi ke Jakarta terlebih dahulu karena tiket kereta Bandung - Malang sudah habis. Tidak ada info tiket kereta lagi setelah habisnya tiket hari itu.
Mungkin aku juga kurang info, jadi aku cari mudahnya saja. Pergi ke Jakarta dulu untuk pulang ke Malang. Ngalor-ngidul memang, dan alasan lainnya aku suka jalan-jalan.
Cerita ini akan seperti di film, buku, atau kisah fiksi lainnya. Tapi ini nyata, aku mengalaminya langsung.
Aku dan dua temenku ini pakai dua motor dari Cianjur. Satu motorku, untuk aku kirim balik lagi ke Malang dari Stasiun Bandung. Satu lagi motor temanku untuk mereka balik ke Cianjur.
Dua temanku ini adalah guru dari salah satu sekolah tempat aku bertugas Kampus Mengajar Angkatan 3. Seakrab itu, karena beruntungnya mereka baik-baik. Semua guru di tempat itu sangat-sangat baik!
Kembali lagi di momen Stasiun Bandung. Keretaku akan berangkat ke Jakarta. Setelah dari tempat Kalog (kalau tidak salah kepanjangannya, KAI Logistik) untuk mengirim motor. Mereka masih mau berjalan kaki ke stasiun bersamaku untuk mengantarku sampai persis depan stasiun.
Hingga keretaku sudah tiba. Aku bersalaman dengan mereka. Setelah itu aku berjalan masuk melewati pemeriksaan tiket kereta. Tapi, setelah dari pemeriksaan tiket kereta. Aku berhenti.
Masih ada sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat. Jadi aku menyempatkan diri untuk menoleh kembali ke arah mereka. Aku lihat dari dalam stasiun, dibatasi oleh kaca, mereka jalan pulang. Aku melihat punggung mereka sampai tidak bisa kelihatan lagi olehku.
Perpisahan itu setelah tiga tahun terjadi masih menjadi salah satu ingatan yang membekas.
Dan anehnya, saat itu terjadi, aku tahu bahwa ini akan memebekas.
Begini, untuk terakhir, aku ingin bercerita apa yang aku rasakan.
"Setelah tiga bulan bertugas di Cianjur. Aku merasa orang-orang menerimaku dengan sangat baik. Sesama tim mahasiswa lain yang bertugas, dosen pembimbing, guru-guru, warga sekitar (karena aku tinggal di lingkungan sekolah). Semua orang sangat-sangat baik! Padahal, saat hari pertama penugasanlah aku baru mengenal mereka semua."
"Tiga bulan sudah, dan waktu terus berjalan. Aku tidak tahu bagaimana ke depannya. Tapi untuk yang sudah terjadi, sama sekali tidak ada penyesalan dan momen-momen yang sudah terjadi sangat-sangat menyenangkan."
"Beli makanan bareng. Masak bareng. Makan juga bareng. Main ke kafe di puncak bareng. Healing ke tempat alam. Kenal sama teman-temannya guru di sana. Ngopi bareng. Beli mie ayam di desa yang jalannya nanjak banget. Nasi goreng malam-malam di dekat Cipanas. Beli es krim mixue yang viral kala itu. Semua itu masih lekat di ingatan, sampai perasaan ketika itu terjadi juga masih lekat."
"Ah, masih tentang makanan. Beberapa makanan juga bikin kangen. Sate maranggi adalah puncak dari kangen ini, tidak ada sate seperti itu di Malang. Sampai rasa kenyal, gurih, manis dari sate maranggi masih bikin ngiler."
"Bubur Cianjur tidak kalah ngangenin. Memang banyak juga bubur di Malang. Bahkan setiap bubur punya rasa khasnya masing-masing. Sejauh ini, bubur Cianjur masih jadi salah satu dari beberapa bubur yang aku suka. Mungkin momennya yang bikin bubur Cianjur jadi istimewa."
"Makanan terakhir yang ngangenin adalah liwet. Ini bisa dibikin di mana saja. Aku juga bisa masaknya karena diajari cara masaknya oleh teman-teman guru tadi. Tapi sekali lagi, momen makan liwet sama-sama ini, harus masuk di tiga teratas makanan Cianjur yang bikin kangen."
Rasanya aku sudah bercerita banyak hal tentang kangen ini. Aku merasa senang bisa mengabadikan perasaan-perasaan itu dalam blog pribadi ini.
Terima kasih teman-teman yang baca ini sampai akhir. Terima kasih sudah menghidupkan momen-momen yang aku ceritakan.
Komentar
Posting Komentar