Pergi ke Gym atau Berangkat ke Spa

 Dalam salah satu bukunya berjudul "The Socrates Express" Eric Weiner mengatakan, "Filsafat mampu menyembuhkan, tapi bukan seperti terapi pijat batu panas. Filsafat tidak mudah. Tidak menyenangkan. Tidak meredahkan nyeri. Lebih seperti gym ketimbang spa."

Aku merasa sangat setuju dengan kalimat Pak Eric Weiner itu. Lagi-lagi setelah refleksi diri, tiba-tiba sadar hal-hal yang sebelumnya tidak disadari.

Sebutlah sepuluh tahun yang lalu saat aku masih remaja SMP, seperti anak-anak SMP pada umumnya yang emosinya meluap-luap dan kerap melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Tambahan minusnya untuk itu, aku begitu egois (setahuku sekarang sudah berkurang).

Dulu aku selalu melakukan hal yang memang aku mau, tanpa peduli orang lain di sekitar. Selagi aku suka melakukannya, aku akan melakukannya. Percayalah, itu sangat buruk saat liburan bersama terjadi. Aku menjadi uring-uringan karena tidak sesuai dengan keinginanku sendiri, orang lain jadi sebel melihat tingkah laku yang seperti itu.

Mungkin faktor umur yang menyadarkan itu, tapi ada hal lain lagi.

Aku bukan anak yang tertutup di sekolah. Aku cukup terbuka, aku suka mengenal orang lain meskipun kadang minder. Aku suka bercanda dengan teman sekelas, meskipun kadang mereka begitu kelewatan.

Pada saat itu terjadi dan bisa dibilang merupakan tindak perundungan, sejujurnya aku sendiri bisa memahami itu.

(kamu selalu memberikan contoh situasi, Jagad).

Oke, yang bisa aku bagi. Ada suatu kondisi yang aku tidak bisa ubah, beberapa teman menyerang itu. Sungguh, aku bisa memahaminya. Karena masih SMP dan ya emosi masih labil (dulu aku menyebutnya itu), masih pada tahap nakal-nakalnya. Jadi aku tidak begitu marah.

Namun, sakit hati karena itu tentu juga diluar kendaliku. Ada perasaan seakan begitu sedih dan mungkin mentalku segera terbentuk karena itu. Entah menjadi lebih tangguh atau malah rusak, rapuh, ringkih.

Sebagai seorang laki-laki aku tergolong perasa. Dulu, aku memasukkan segalanya ke dalam hati lalu mencernanya. Perundungan itu tadi contohnya, aku merasa mereka tidak bermaksud seperti itu, aku merasa mereka menjadikanku lelucon karena mereka menganggapnya lucu. Tapi dalam hati aku merasa mereka tidak ingin menyakiti.

Perasaanku benar-benar remuk ketika harus menelan itu setiap hari. Sampai ...

Melompat lebih jauh waktu mulai menyukai buku-buku. Tanpa sadar aku terseret pada gym Eric Weiner, filsafat.

Mungkin jika dulu aku tidak suka buku, aku akan tertolong dengan dokter kesehatan mental. Entah psikolog atau psikiater yang memberikan ketenangan seperti spa.

Tapi karena arus membawa ke dunia filsafat. Aku merasa mentalku tiba-tiba tangguh seperti rutin melakukan olahraga gym.

Sebelum mengenal filsafat, aku akan ngambek pada teman yang tidak tepat waktu saat melakukan janji temu. Setelah mengenal filsafat, aku biasa saja.

Karena sebelumnya aku hanya menunggu. Sekarang, aku tahu bahwa itu diluar kendaliku. Aku masih cukup buruk untuk mengingat filsufnya. Aku pernah baca kurang lebih, "kita tidak bisa mengubah apa pun yang diluar kendali kita, yang bisa kita lakukan adalah mengontrol apa yang bisa kita kendalikan."

Saat menunggu, yang bisa aku lakukan adalah mengalihkan perhatianku dari kata menunggu. Biasanya aku membaca buku, menulis puisi, atau jika ada orang asing yang tiba-tiba duduk satu meja denganku, aku mengobrol jika memang orang asing itu terlihat santai.

Begitulah, itu yang ingin aku bagikan kepada teman-teman pada sesi curhat kali ini. Haha.

Oh ya, kata penutup,

"jika belum terlambat dan kamu merasa membutuhkan sesuatu, pilihlah yang sesuai dengan kebutuhanmu. Kamu bisa berangkat ke gym definisi Eric Weiner atau pergi melakukan pijat spa. Keduanya bagus, tergantung pilihan, keinginan, dan kebutuhanmu."

Selalu berbuat baik, teman-teman. :)

Komentar

Postingan Populer